ketika usia menjadi masalah….

17 02 2009

harifin1Seringkali kita kaget dan kadang malah marah bila ditanya tentang satu hal yaitu usia. Usia dianggap sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Orang menganggap segala hal yang berkaitan dengan usia tak perlu dibicarakan walaupun ada yang cuek dengan usia. Para artis yang wajahnya sering muncul di tv pasti mengelak dan berusaha mati-matian menjaga agar usianya tidak diketahui orang lain. Privasi katanya. Tapi akhir-akhir ini hal-hal seputar usia ramai dibicarakan khususnya oleh mereka yang berkutat di bidang hukum. Ada apa dengan usia?

Masih ingat dengan UU Mahkamah Agung yang beberapa waktu lalu disahkan DPR dalam sidang yang “cacat” karena tidak memenuhi kuorum? Masih ingat dengan bahasan tentang usia pensiun hakim agung yang saat itu menjadi kontroversi? Ya masih seputar itu hanya saja isu itu kini sedang hangat dibicarakan kembali.

Kemarin, tanggal 16 Februari 2009, Fakultas Hukum UGM merayakan Dies Natalis-nya yang ke 63. Suatu usia yang tua menurut saya tapi terbukti masih dapat memberikan sumbangan yang besar bagi dunia hukum di tanah air kita tercinta ini. Dalam rangka Dies Natalis itu digelar seminar tentang perkembangan dunia hukum Indonesia dengan pembicara salah satunya adalah Harifin A. Tumpa, Ketua MA saat ini. Bisa dibilang saat acara itu berlangsung, beliau menjadi bulan-bulanan kritikan dari para mahasiswa dan peserta seminar. Kritikan yang diterimanya masih juga berkutat soal usia. Bahkan para mahasiswa menghadiahi_Harifin buket bunga dan cermin sebagai sindiran agar MA mengadakan reformasi secara total.

Saya sempat membaca sebuah berita di sebuah koran nasional ketika UU MA disahkan DPR. Berita itu memuat curahan hati seorang hakim senior di sebuah Pengadilan Negeri di Jawa Timur. Ia mengatakan kalau usia pensiun hakim menjadi 70 tahun maka akan ada kesulitan dalam diri hakim sendiri. Ia berkata,”sekarang saja dengan umur saya yang sudah 60 tahun kasus yang bisa saya tangani cuma sekian, gimana nanti kalo dibikin 70 tahun? Berdiri pun sulit.” Memang, umur 70 tahun sudah termasuk dalam usia lanjut dimana saat itu kondisi fisik seseorang sudah jauh menurun begitu juga dengan kemampuan otak dalam menganalisis dan berpikir. Hal inilah yang menjadi masalah: bisakah hakim-hakim “tua” kita berpikir jernih di usia renta??

Saya juga sempat membaca berita lain tapi kali ini di koran yang berbeda yang memberitakan bahwa Harifin Tumpa sempat terjatuh ketika dilantik menjadi Ketua MA. Mungkinkah ini efek dari usia renta?? Bisa saja. Apalagi mengingat usia Harifin yang sudah 67 tahun, sudah pasti kondisi fisiknya sudah lemah. Kalau hakim sekaliber Harifin saja seperti itu, bagaimana dengan hakim-hakim lain yang seusia dengan Harifin? Masihkah mereka mampu untuk menyelesaikan kasus-kasus yang setiap hari bermunculan dengan hati, pikiran dan fisik yang prima? Ada pepatah mengatakan,”makin tua makin banyak santannya”. Saya jadi berpikir, apakah dengan usia renta menjadi lebih bijak dan arif dalam menyelesaikan kasus? Belum tentu. Malah mungkin yang ada akan makin menguras energi mereka yang (sebenarnya) telah terkuras habis. Ini tentu berbahaya bagi masa depan penegakan hukum di Indonesia karena dengan diperpanjangnya usia pensiun hakim menjadi 70 tahun akan memperlambat regenerasi hakim sehingga akibat yang timbul adalah muncul rasa ketidakadilan di masyarakat. Kalau sudah begini, bagaimana masa depan hukum Indonesia di tangan hakim-hakim uzur? Silakan berpikir..

Iklan