pemilu dan arti lingkungan hidup…

13 01 2009

mvc-019sPemilu 2009 tinggal menghitung hari. Partai-partai politik seakan berlomba memasang senyum manis untuk menarik simpati rakyat. Janji-janji manis bak permen pun mulai disebar. Mulai janji menurunkan harga BBM, hingga janji menggratiskan biaya pendidikan yang nyatanya tak pernah terwujud hingga kini. Itulah sedikit gambaran tentang pemilu  di Indonesia yang akbar, besar, ramai, langsung, umum, bebas, rahasia dan….mahal.

Pemilu Indonesia mahal? Tampaknya tidak terlalu berlebihan. Sudah terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa memang seperti itulah kenyataannya. Para caleg harus menyetor sekian juta bahkan sekian milyar rupiah untuk merayu pimpinan parpol agar menempatkannya di nomor urut atas yang berarti pula memperbesar kans mereka bertarung (atau bertahta?) di Senayan sana. Namun akhirnya mereka mesti merugi karena MK menyatakan sistem seperti itu bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.  Bukti lain anggaran KPU untuk menyelenggarakan pemilu kali ini sangat besar. Lebih dari 50 trilyun rupiah. Itu masih akan bertambah karena “gosipnya” KPU meminta tambahan dana sekian rupiah untuk melakukan mekanisme penunjukkan langsung perusahaan distribusi kertas dan perlengkapan pemilu lain ke daerah-daerah. Fantastis!

Namun, “mahalnya” pemilu Indonesia ternyata tidak menjamin pemilu kali ini bebas dari kekurangan. Salah satu kekurangan itu adalah soal lingkungan hidup. Ternyata pemilu Indonesia tidak ramah lingkungan. Ini terbukti dari banyaknya kertas yang dipakai, baik untuk pamflet calon maupun untuk keperluan KPU dan sebagainya. Kita memang tak bisa memungkiri kertas masih merupakan kebutuhan dasar suatu urusan. Mulai dari urusan surat menyurat hingga urusan buang hajat masih memerlukan kertas. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, kertas dibuat dari pohon-pohon di hutan. Bayangkan berapa pohon di hutan Indonesia yang ditebang untuk membuat kertas tiap tahunnya.

Kebutuhan KPU akan kertas memang luar biasa. Bayangkan dalam sehari saja KPU memerlukan berapa rim kertas untuk segala keperluannya. Bayangkan pula berapa banyak pohon di hutan Indonesia yang ditebang “hanya” untuk keperluan KPU. Hal itu masih ditambah dengan surat suara yang lagi-lagi memerlukan kertas. Tinta yang digunakan pun cenderung mengandung limbah berbahaya dalam produksinya. Parahnya lagi residu atau limbah dari pembuatan kertas dan tinta itu dibuang begitu saja ke sungai atau tempat lain tanpa mempedulikan dampaknya bagi masyarakat luas. Bisa saja masyarakat sekitar tempat limbah dibuang itu terkena penyakit berbahaya dan mematikan karena limbah.

Tingkah KPU itu juga diikuti dan dicontoh oleh para caleg yang akan bertarung dalam pemilu 2009. Para caleg yang bertarung dalam pemilu 2009 juga menggunakan kertas yang jumlahnya sangat fantastis. Mereka menggunakan kertas-kertas itu untuk berbagai hal mulai dari membuat selebaran hingga poster-poster. Semua itu mereka lakukan demi meraih simpati rakyat. Tapi parahnya demi simpati rakyat yang “tidak seberapa” itu, mereka mengorbankan lingkungan hidup. Bayangkan lagi berapa rim kertas yang diperlukan oleh seorang caleg. Itu baru satu caleg, sedangkan pemilu kali ini akan diikuti oleh ratusan caleg. Bayangkan jumlah pohon di hutan yang digunakan sebagai bahan baku kertas demi menyuplai kebutuhan para caleg itu. Parahnya lagi mereka menambah “dosa lingkungan” mereka dengan menempelkan kertas-kertas tadi di sembarang tempat sehingga menimbulkan kesan kumuh dan merusak lingkungan.taufik-cabut-pamplet-dalam

Melihat perilaku KPU dan para caleg tersebut mungkin membuat mereka mengelus dada. Bagaimana tidak? Lingkungan hidup diobrak-abrik demi sebuah pemilu yang hanya sekali dalam 5 tahun dan akan selesai dalam waktu “hanya” sebulan saja. Tidak terpikirkah oleh mereka untuk membuat pemilu kali ini lebih efisien, bersih, dan elegan? Ada solusinya hanya saja pertanyaannya sekarang maukah mereka menerapkannya? Sempat terpikir oleh saya untuk membuat sistem pemilu kita lebih canggih dengan full computerized atau serba terkomputerisasi dan online. Saya membayangkan sistem pemilu yang lebih canggih dari miliknya AS. Saya membayangkan para caleg mendaftarkan dirinya ikut serta dalam pemilu secara online seperti pendaftaran UM UGM dan para pemilih pun memberikan suara dalam TPS yang seperti ATM, cukup masukkan KTP atau kartu pemilih ke mesin dan lakukan seperti kita melakukan transaksi di ATM. Dengan begitu keadaan kertas tak lagi menjadi hal utama dan satu lagi para caleg cukup berkampanye melalui media audio video seperti yang dilakukan Ahmadinejad yang berkampanye hanya dengan DVD. Jadi dengan demikian tak lagi kita jumpai kertas-kertas pamflet yang tak berguna dan hanya mengotori lingkungan di tiap sudut kota sehingga menjadikan pemilu benar-benar bersih dalam arti lingkungan.

*gambar diambil dari berbagai sumber

Iklan

Aksi

Information

6 responses

18 01 2009
ichanx

betul!!!! pemilu itu kok malah jadi identik dengan pengotoran dimana-mana ya? kertas, bendera… beuuuhh… ngerusak pemandangan

19 01 2009
jiwakelana

Semua demi sebuah popularitas.

21 01 2009
ario saja

klo dah kepilih… janji tinggal lah janji

23 01 2009
Edi Psw

Setuju! Pemborosan nih.

6 02 2009
escoret

hahhahaha..aku jg posting hal ini….tapi lbh keren,,hehhehehhe

6 02 2009
benazio

bener tuh ngotorin banget, dimana2 .. masih mending deh kalo spanduk bisa dicopot .. kalo yang poster2 gitu .. ntar basah, sobek, kotor lagi gimana sih payah .. ga ada apa yang janjinya janji indonesia bersih ? gue dukung tuh kalo ada yang bisa bikin indonesia bersih! hoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: