politik dalam semangkuk bakso dan sepiring nasi goreng….

26 11 2008

Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata tersebut mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam kalimat itu tersirat satu kata yang sering kita temui di koran, majalah, internet, bahkan gedung DPR hingga istana presiden. Kata itu adalah “politik”. Satu kata yang bermakna besar dan akar dari semua konflik. Bayangkan saja orang beramai-ramai bikin partai karena kata ini, DPR adu jotos di Rapat Paripurna gara-gara berbeda pandangan soal kata ini. Politik. Suatu yang kejam tapi kita perlukan karena kita tak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain.

Dengan kemunculannya di koran dan media massa lain hingga ke DPR dan presiden, orang-orang awam mungkin bertanya-tanya : apa sieh politik itu? Hal ini wajar saja ditanyakan karena kita ingin bangsa kita adalah bangsa yang melek politik, tahu dan paham apa itu politik dan yang paling utama adalah masyarakat awam sadar dan tahu hak-hak poitiknya. Politik secara awam diartikan sebagai cara seseorang untuk mencapai dan mempertahankan tujuannya. Tujuan di sini bisa diartikan tujuan materi dan immateri. Contohnya kekuasaan atau yang sering ditemui di masyarakat adalah berpolitik untuk mempertahankan hidup dengan berjualan atau barter misalnya. Berjualan atau barter disitu sudah bisa dinilai sebagai politik yang sederhana karena ada interaksi individu disitu.

ph-barrack-obamaKemarin saya membaca sebuah berita menarik di sebuah koran nasional yang cukup ternama. Di situ disebutkan bahwa Obama, presiden Amrik yang baru terpilih itu menelpon SBY ketika presiden kita yang gagah itu singgah di Seattle dalam perjalanan pulang dari Brazil. Isi pembicaraan itu cuma seputar basa-basi politik, menurut saya. Obama cuma menyampaikan penghargaan kepada Indonesia yang telah membina hubungan baik Washington-Jakarta. Obama juga menyampaikan bahwa ia rindu dengan nasi goreng, bakso, dan rambutan. SBY pun menimpali dengan mengundang Obama ke Indonesia dan menyampaikan amanat dari teman-teman SD Obama ketika ia tinggal di Indonesia dulu berupa album foto yang akan disampaikan oleh Dubes RI untuk AS.

Kini terbukti bahwa semangkuk bakso dan sepiring nasi goreng telah membawa efek yang luar biasa bagi seorang Barrack Husein Obama dan juga Indonesia. Obama yang pernah tinggal di Indonesia pasti pernah merasakan nikmatnya nasi goreng dan bakso Indonesia dan kini kenangan itu muncul lagi dalam benak Obama. Ini merupakan kesempatan bagus bagi Indonesia untuk membina hubungan yang saling menguntungkan dan lebih erat dengan AS melalui semangkuk bakso dan sepiring nasi goreng. Lewat semangkuk bakso dan sepiring nasi goreng? Kenapa tidak! Kedua makanan itu bisa menjadi media yang pas dalam pembicaraan bilateral. Suguhkan saja semangkuk bakso Pak Ateng ( di depan Fapertan UGM) dan atau sepiring nasi goreng Bank Mandiri ( seberang Kopma UGM) maka akan muncul berbagai perjanjian diplomatik yang menguntungkan sekalian memanfaatkan momen kerinduan Obama akan rasa nasi goreng dan bakso. img_0043bakso

Makanan dijadikan media politik? Kenapa tidak! Itu pula yang dilakukan Indonesia dan Belanda. Saya sempat membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa hubungan politik RI-Belanda dilatarbelakangi oleh sayur asem. Benar atau tidaknya saya juga tidak bisa memastikannya yang jelas banyak orang Belanda yang sangat menyukai masakan Indonesia dan itulah mungkin yang menyebabkan hubungan RI-Belanda makin erat. Contoh lain ketika Dubes AS untuk RI mengunjungi sebuah warung yang dimiliki seorang blogger, warung itu wetiga namanya, untuk memberi donasi berupa buku-buku untuk disalurkan kepada anak-anak. Program itu sendiri dipelopori oleh BHI. Di situ sang dubes mencomot beberapa makanan yang ada di situ termasuk bakwan jagung. Ini artinya makanan pun bisa dibuat sebagai media politik. Kalau mau belajar politik gak usah jauh-jauh berguru ke PTN atau PTS kita yang makin mahal itu. Makanlah nasi goreng dan semangkuk bakso dan temukan pelajaran politik di dalamnya.

*gambar diambil dari berbagai sumber*





iklan…..

21 11 2008

Iklan atau ada yang bilang reklame adalah suatu alat atau media untuk memberitahukan suatu hal. Suatu hal itu bisa berupa barang, pengumuman penting atau yang lain seperti kampanye pemilu. Iklan pun harus dibuat semenarik mungkin agar khalayak ramai menjadi tertarik.

Berhubung beberapa waktu lagi kita akan memasuki satu pesta demokrasi yang bernama PEMILU 2009, maka keberadaan iklan ini menjadi penting. Penting karena melalui media inilah para caleg dan capres mensosialisasikan visi dan misinya sekaligus memperkenalkan diri kepada publik melalui baliho di pinggir jalan, iklan di tv atau media cetak dan lainnya.

Hanya saja sangat disayangkan regulasi tentang iklan di negara kita sangat lemah. Lemah karena sering “kecolongan”. Iklan yang baik tentunya harus sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, tidak mengandung unsur-unsur yang melanggar kesusilaan, dan yang harus dipatuhi adalah iklan itu tidak boleh menyinggung perasaan pihak lain.

Untuk iklan politik rasanya aturan terakhir tadi perlu ditegaskan lagi. Karena tak jarang aksi saling menjatuhkan sesama calon di media iklan terjadi. Hal ini seperti yang terjadi di AS ketika terjadi “perang iklan” antara Obama vs Mc Cain. Hal seperti ini tidak boleh terjadi di negara kita yang menganut adat timur yang sangat menghargai perasaan orang lain.

Iklan bisa menjadi senjata ampuh untuk menjajakan suatu hal tapi di sisi lain para penggiat iklan atau orang-orang yang menggunakan iklan sebagai media informasi harus menyadari prinsip-prinsip beriklan. Jangan sampai merugikan pihak lain. Selamat Beriklan…!!