seberapa terpurukkah akhlak bangsa kita……?????

24 09 2008

judul di atas tampaknya cukup untuk mengawali tulisan saya kali ini. Seberapa terpurukkan akhlak bangsa kita? Pertanyaan itu akhir-akhir ini berkecamuk di pikiran saya. Saya tak habis pikir kenapa ini terjadi.

Seberapa terpurukkah akhlak bangsa kita? Hingga DPR pun berkeras menelurkan sebuah UU baru. UU baru yang akhir-akhir ini menimbulkan pro dan kontra. Saya khawatir bila pro-kontra ini tidak selesai bisa terjadi perang saudara. Satu hal yang sama-sama tak kita harapkan.

RUU Anti Pornografi seperti namanya memang dibuat untuk menghalau serbuan pornografi dan berbagai hal berbau pornografi di samping itu juga terselip niat mulia untuk menyelamatkan akhlak bangsa Indonesia yang kian terpuruk. Seberapa terpuruk? Tak ada ukuran yang jelas.

RUU ini sebenarnya telah diajukan oleh pemerintah kira-kira setahun yang lalu. Namun saat itu RUU yang masih bernama RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ( RUU APP) ini pembahasannya seret karena ternyata terjadi konflik di masayarakat soal RUU APP itu. Waktu itu muncul konflik di antara masyarakat mengenai definisi pornoaksi dan definisi pornografi serta batasan kedua perilaku tersebut. Akhirnya DPR pun mengalah dan menghentikan pembahasan RUU itu dan meminta pemerintah untuk merevisi draft RUU itu.

Berbagai perubahan pun dilakukan. Sampai akhirnya RUU itu berganti nama menjadi RUU Anti Pornografi. Perbedaan yang paling mencolok ada pada jumlah pasalnya. Bila RUU APP memuat 93 pasal, RUU AP “hanya” memuat 44 pasal. Masyarakat pun mulai bergolak saat RUU itu kembali dibahas DPR. Mereka beranggapan RUU itu akan menggoyang persatuan dan kesatuan bangsa atau dengan kata lain RUU itu akan memecah belah bangsa Indonesia. Konflik itu pun menjalar hingga ke anggota DPR yang membahas RUU itu. Perpecahan pendapat terjadi di sana.

Sementara DPR ribut di Senayan sana, masyarakat mulai berlomba-lomba menyatakan pendapat. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada pula yang mempersoalkan beberapa ketentuan dalam RUU itu yang dinilai sebagai pasal karet karena samar, tidak jelas dan rawan penyelewengan. Timbul pula kekhawatiran bahwa RUU itu akan menghancurkan tradisi dan adat istiadat yang telah bertahun-tahun hidup dalam masyarakat Indonesia.

Saya tidak bisa meramalkan akhir dari konflik ini. Hanya saja saya melihat bahwa DPR mulai berhati-hati membahas RUU ini. Satu gerakan yang salah dari DPR akan membuat rakyat bereaksi. Sebetulnya perlukah RUU ini disahkan atau dibuat? Menurut saya tidak perlu karena negara kita sejak lama telah memiliki mekanisme sendiri untuk membendung serangan pornografi. Kalau ingin menyelamatkan akhlak masyarakat sudah ada lembaga-lembaga keagamaan yang siap memberi bimbingan akhlak. Bila RUU ini disahkan dikhawatirkan terjadi perpecahan di masyarakat dan terjadi penerapan hukum yang kacau. Saya membayangkan bila nantinya RUU ini disahkan berarti saya tidak boleh lagi berlenggang menggunakan kaos singlet dan celana pendek karena ada aturan dalam RUU itu yang melarang memakai pakaian yang memmpertontonkan kemaluan. Seberapa terpurukkah akhlak bangsa kita?????

Iklan




mari bung turun ke jalan…..

2 09 2008

Ramadhan yang penuh rahmat memasuki hari kedua. Masjid, mushola hingga rumah-rumah makan penuh oleh orang-orang dari berbagai suku bangsa. Bila saat sahur dan berbuka rumah makan ramai dikunjungi orang maka pada waktu isya masjid dan mushola dipenuhi oleh para jamaah yang akan menunaikan sholat isya dan tarawih. Pertanyaannya sekarang, sampai kapan masjid-masjid itu akan penuh dengan para jamaah? Ada satu keunikan yang terjadi di bulan Ramadhan dan itu terjadi tiap tahun selama bulan Ramadhan bahwa semangat untuk memakmurkan masjid “hanya” terasa di hari-hari awal Ramadhan saja. Paling tidak hingga dua minggu pertama selebihnya masjid akan sepi dan semakin sepi karena para jamaah memanfaatkan momen Ramadhan untuk mudik.

Puasa di bulan Ramadhan diperintahkan oleh ALLAH SWT dalam Q.S. AL BAQARAH ayat 183 yang artinya ” Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” Takwa. Itulah tujuan kita berpuasa. Agar kita makin bertakwa kepada ALLAH SWT. Tapi apakah takwa hanya bisa diraih hanya dengan sholat dan puasa saja? Tidak. Tidak hanya sholat dan puasa tapi juga bersosialisasi dengan sesama saudara Muslim dan juga kepada saudara-saudara kita yang non-Muslim.

Maksud diperintahkannya kita berpuasa adalah agar kita merasakan penderitaan orang lain. Orang yang selama ini terpinggirkan dan kadang tidak kita sadari kehadiran mereka. Orang yang tidak seberuntung kita. Kadang mereka hanya makan sekali sehari bahkan berhari-hari tidak makan. Mereka menggantungkan hidup mereka pada rizki yang mereka dapat hari itu. Bila hari itu tak ada rizki maka hari itu mereka tidak makan. Mereka akan berusaha lagi mencari rizki untuk mereka hidup esok hari. Mereka tidak pernah memikirkan untuk menabung karena uang yang mereka dapat habis untuk kehidupan mereka hari itu. Apa yang mereka dapat hari ini itulah yang mereka gunakan untuk makan dan kebutuhan lainnya. Bersyukurlah, kawan. bersyukurlah karena ALLAH SWT memberi kita rizki yang melimpah. Bersyukurlah karena kita masih bisa makan enak hari ini dan nanti. Bersyukurlah karena kita bisa merasakan nikmat-nikmat dari ALLAH yang tak terhingga jumlahnya. Tapi ingatlah, kawan. Ingatlah karena pada harta kita ada harta dan hak-hak mereka yang wajib kita kembalikan kepada mereka.

Puncak amalan di bulan Ramadhan adalah zakat fitrah. Zakat fitrah adalah salah satu cara mensucikan harta kita. Pada saat inilah hak-hak saudara kita yang tidak mampu kita kembalikan kepada mereka. Setelah berzakat harta kita akan suci dan kita pun akan tenang menjalani kehidupan kita. Selain zakat fitrah ada zakat mal dan shodaqoh. Kita bisa melakukan kedua amalan ini tidak hanya saat bulan Ramadhan saja tapi juga hari lain selain bulan Ramadhan.

Akhirnya saya mengajak kepada anda semua. Baik saudaraku sesama Muslim dan non-Muslim. Saya mengajak kepada anda untuk sama-sama memperhatikan mereka. Untuk tidak lagi mengacuhkan mereka. Kita wajib membantu mereka karena kita dan mereka sama. Sama-sama manusia. Mari kita turun ke jalan membantu kehidupan mereka. Wujud bantuannya bisa apa saja. Memberi mereka makan sahur dan berbuka puasa, menyalurkan zakat untuk mereka dan lain-lain. Lupakan sejenak kesibukan dan kepenatan di kantor dan turunlah ke jalan. Bantulah mereka. Semoga ALLAH SWT membalas budi baik anda semua. Amien.