membedah sistem dan kerja hukum Indonesia…..

30 08 2008

Hukum. Tak sekedar kumpulan lima huruf yang membentuk sebuah kata tapi arti sebenarnya lebih dari itu. Hukum memiliki arti filosofis yang dalam. Dalam pengertian awam hukum diartikan sebagai sekumpulan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur kehidupan manusia dengan tujuan menciptakan keteraturan dan keadilan. Jelaslah bila hukum mencita-citakan keadilan. Namun hukum hanya bertujuan mengusahakan menemukan keadilan dan bukan menciptakannya karena keadilan yang hakiki hanya ada pada Tuhan.

Para ahli hukum telah merumuskan doktrin-doktrin hukum yang digunakan di seluruh dunia. Ahli-ahli hukum jaman kuno seperti Plato, Aristoteles, Socrates serta para ahli hukum jaman pertengahan dan modern seperti Hans Kelsen, john Locke, Hazewinkel Suringa dan kawan-kawan telah memberi andil besar dalam membangun dasar-dasar hukum global.

Secara garis besar sistem hukum di dunia dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu Sistem Hukum Anglo-Saxon dan Sistem Hukum Continental. Sistem Hukum Anglo-Saxon adalah sistem hukum yang menggunakan aturan tak tertulis dalam praktiknya. Tidak ada aturan tertulis di sini. Contoh ini nyata terlihat dalam sidang dimana disitu ada sekelompok juri dan hakim hanya bertugas memberi hukuman dan tidak bertugas untuk menentukan bersalah-tidaknya sesorang. Sistem ini dianut oleh Inggris dan AS. Sistem Continental berkebalikan dari Sistem Anglo-Saxon. Dalam sistem ini hakim berkuasa untuk menentukan bersalah tidaknya seseorang dan hukuman yang pantas bagi si terdakwa. Tentunya hal itu sesuai UU karena sistem ini memakai peraturan tertulis. Sistem ini dianut oleh negara-negara Eropa seperti Belanda dan negara kita tercinta Indonesia.

Di Indonesia sistem peradilan kita dilakukan oleh MA dan Kejakgung. Selain dua lembaga tadi masih ada MK dan KY tapi dalam hal ini kita kesampingkan dulu dua lembaga terakhir karena konteks kita adalah hukum dalam penerapannya dalam arti luas.

Indonesia adalah negara yang penerapan hukumnya unik. Unik karena semua doktrin dan ramalan dari para ahli hukum dunia terjadi dan diterapkan di Indonesia. Karena itulah Indonesia dijadikan laboratorium hukum terlengkap di dunia dan menjadi objek penelitian oleh para ahli. Indonesia sendiri hingga kini masih memakai peraturan yang sudah sangat tua yaitu KUHP yang dikodifikasikan tahun 1918 dan KUH Perdata yang dikodifikasikan tahun 1848.

Ada 3 lembaga yang bertugas mengawal hukum di Indonesia yaitu polisi, kejaksaan dan pengadilan. Ketiga lembaga ini saling bekerja sama bahu membahu menciptakan kepastian hukum di negara kita. Polisi sebagai garda terdepan penerapan hukum bertugas menyelidiki dan menyidik pelanggaran hukum. Setelah proses selesai berkas diserahkan kepada jaksa untuk ditelaah dan dilakukan penuntutan sedang pengadilan bertugas mengadili para pelanggar hukum.

Sayangnya ketiga lembaga itu sedang diuji. Kepolisian sebagai garda terdepan ternyata telah disusupi oleh para makelar hukum dan tak berdaya melihat onggokan uang yang disodorkan para cukong kayu. Cukup berikan sejumlah uang maka urusan beres dan anda bebas dari jerat hukum. Kejaksaan lebih parah. Kasus suap yang dilakukan oleh salah satu jaksa terbaiknya telah mencoreng nama dan pamor kejaksaan sebagai institusi penegak hukum. Alhasil Jaksa Agung pun pontang-panting melakukan pembersihan di lembaganya. Dan bagaimana dengan sang jaksa terbaik yang terinfeksi kasus suap itu? Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu di kursi pesakitannya di pengadilan sambil memohon kebijaksanaan hakim dalam pembelaannya. Pengadilan yang seharusnya menjadi garda terakhir dan penentu hasil usaha penegakan hukum pun tak luput dari virus mafia peradilan. Hubungi Aku Kalau Ingin Menang menjadi slogan mereka. Para hakim yang seharusnya berpihak pada keadilan dan kebenaran tak berdaya dengan timbunan uang di hadapan mereka. Mata mereka buta karena tak mampu melihat kebenaran yang tersembunyi, mulut mereka bisu dan hanya bisa berkata kebohongan, telinga mereka tuli tak sanggup mendengar suara-suara rintihan orang yang mencari keadilan, dan hati mereka beku sebeku es abadi, hati nurani mereka telah mati terinfeksi virus bernama uang dan kekuasaan.

Begitulah wajah hukum di Indonesia. Anda tahu berapa persentase mafia peradilan di lemabaga-lembaga peradilan? Menurut data dari Pukat UGM persentasenya mencapai 100%!! Itu artinya tak ada lagi lembaga peradilan yang bersih dari mafia peradilan. Dan mafia peradilan adalah salah satu bentuk korupsi yang wajib kita berantas sampai ke akarnya….

Disini korupsi….disana korupsi…

Dimana-mana ada korupsi…

Disini korupsi…disana korupsi…

Dimana-mana ada korupsi….

Ayo lawan, kawan-kawan…

Ayo lawan, kawan-kawan…

Sampai menang…..

Iklan

Aksi

Information

One response

31 08 2008
Rully Patria

maap neh…
ga terlalu ngerti 😦
dalem banget ya ulasan Kang Yogi ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: