akhirnya terjadi juga…..

29 05 2008

Akhirnya apa yang ditakutkan dan dibenci rakyat indonesia terjadi juga. Harga BBM akhirnya “nekad” dinaikkan oleh pemerintah. Suatu hal yang terlalu berani mengingat mayoritas rakyat menentang kenaikan harga BBM itu. Dan sekali lagi pemerintah menutup telinga dari semua jerit pilu rakyat. Apa ini yang namanya demokrasi?

Kenaikan harga BBM kali ini pun mendapat tentangan luas. Tidak hanya dari kalangan mahasiswa, kali ini buruh dan supir angkot pun turun ke jalan menuntut pembatalan kenaikan harga tersebut. Pemerintah lagi-lagi bergeming. Untuk membungkam mulut rakyat, pemerintah mengeluarkan senjata makan tuan pamungkasnya, BLT. BLT ini sebenarnya sudah banyak ditentang karena rawan konflik sosial dan jumlah nominalnya yang tak sebanding dengan kenyataan harga barang saat ini serta mengajarkan rakyat menjadi malas bekerja. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Itu juga yang dilakukan pemerintah saat ini dengan BLT-nya. Dengan tetap menggunakan data lama tahun 2005 yang tak lagi up to date, pemerintah yakin akan keberlanjutan dan keberhasilan program ini.

Kalangan mahasiswa makin muak dengan sepak terjang pemerintah yang ndableg itu. Mereka pun makin lantang meneriakkan tuntutannya yang makin membuat pemerintah dan aparat keamanan panas telinganya. Tersebutlah peristiwa penyerbuan kampus UNAS oleh polisi yang akhirnya oleh Komnas HAM diindikasikan adanya pelanggaran HAM oleh polisi. Tentu saja polisi mengelak. Lagi kali ini mahasiswa UKI dan Atmajaya yang beraksi. Mereka memblokir jalan depan kampus mereka dengan membakar ban-ban bekas dan ranting-ranting pohon. Mereka muak melihat sikap pemerintah yang tidak pro rakyat dan sekaligus menunjukkan dukungan moril kepada rekan mahasiswa UNAS yang ditahan polisi. Aksi itu hampir dilawan dengan tindakan represif aparat bila komandan polisi tidak memerintahkan anak buahnya untuk menahan diri. Puncak kemarahan mahasiswa terjadi di sekitar kampus Universitas Moestopo, Senayan, Jakarta, saat itu Kanit Patroli Polsek Kebayoran Baru yang sedang berpatroli di sekitar kampus dikeroyok oleh mahasiswa yang sedang menyiapkan aksi demo. Mei ’98 akan kembali terulang….!!!

Pemerintah lagi-lagi buka suara. Presiden melalui juru bicaranya menyampaikan bahwa beliau lebih menghargai dialog daripada aksi demo yang tidak memberi solusi. Mahasiswa memang tidak dibekali kemampuan dan kompetensi untuk memberi solusi konkret. Posisi mereka saat ini hanya sebagai motivator perubahan yang diharapkan akan muncul solusi yang terbaik. Untuk “memberangus” tuntutan dan teriakan kritis mahasiswa, pemerintah menelurkan program beasiswa sebesar Rp 400 miliar. Tentu saja pemerintah menolak tuduhan bahwa beasiswa itu untuk membungkam teriakan lantang mahasiswa menentang kebijakan pemerintah soal BBM. Beberapa rektor mulai angkat bicara. Rektor Unpad misalnya. Beliau setuju adanya program beasiswa tersebut asal tidak ditujukan untuk membungkam teriakan dan pikiran kritis mahasiswa.

Peristiwa Mei ’98 terancam terulang kembali bila pemerintah tetap pada pendiriannya. Pemerintah akan berhadapan dengan people power bila tidak mau mendengarkan suara rakyat. Tuntutan agar SBY-JK mundur sayup-sayup terdengar. Bila tetap membandel, rakyat akan menarik mandat yang telah diamanatkan kepada kedua orang itu dan Indonesia akan kembali terjerumus ke era kegelapan.

Iklan




BBM….si buah simalakama….

7 05 2008

Salah satu “mesin” ekonomi Indonesia sedang digoyang. Harga bahan bakar minyak akan kembali naik. Kenaikan itu dipicu oleh naiknya harga minyak dunia yang menembus harga 120 Dollar AS per barel.

Pemerintah tampaknya yak punya pilihan lain dan menyerah pada situasi ekonomi dunia yang sedang terpuruk. Kenaikan kali ini adalah kenaikan yang ketiga kalinya. Pemerintah mengakui kebijakan ini adalah kebijakan yang paling dibenci rakyat. Suatu kalimat yang menggambarkan ketidakberdayaan pemerintah. Nasi sudah menjadi bubur. Rasio kenaikan sedang dihitung. Kenaikan diusahakan tidak lebih dari 30%. Kenaikan kali ini juga diikuti program kejar paket C BLT yang sudah terbukti tidak efektif. Program BLT untuk rakyat miskin terbukti tidak mampu mengurangi penderitaan mereka. Malah makin menambah penderitaan karen sebagian besar uang yang mereka terima digunakan untuk membeli jajan……..bahan bakar minyak. Belum lagi penderitaan mereka mengantri selama berjam-jam hanya untuk memperoleh uang sebesar Rp 200rb. Bahkan dalam beberapa kasus mereka yang notabene mampu secara ekonomi malah mendapat jatah BLT. Suatu tanda tidak tepatnya sasaran pembagian BLT.

Dengan naiknya harga BBM, DIPASTIKAN akan diikuti kenaikan harga barang. Ditambah lagi dengan gejala khas pra-kenaikan harga BBM yaitu kelangkaan BBM. Dan hal itu sudah terjadi di daerah-daerah. Program konversi BBM ke gas pun dikebut dan menimbulkan masalah baru. Saking semangatnya menggeber program konversi minyak ke gas, LPG malah menghilang dari pasaran tanpa sebab yang diketahui oleh pemeintah.

Laju inflasi bulan juga akan meroket bahkan mungkin akan melebihi dua digit, suatu hal yang palin ditakuti oleh tim ekonomi pemerintah. Inflasi yang meroket tadi disebabkan oleh naiknya harga barang terutama barang kebutuhan pokok sebagai ekses dari kenaikan harga BBM. Tarif transportasi pun akan naik pula. Singkatnya, dengan naiknya harga BBM semua harga dan tarif akan naik yang pasti akan memberatkan masyarakat kecil.

Sebenarnya pemerintah dihadapkan pada 2 pilihan sulit. Pemerintah harus memilih tidak menaikkan harga BBM namun APBN rontok atau menyelamatkan APBN dengan menaikkan harga BBM agar subsidi BBM bisa ditekan dan APBN selamat. Tentunya pilihan sulit itu dihadapkan lagi pada satu masalah lain yang tak kalah beratnya, kepentingan rakyat. Rakyat tentunya berharap yang terbaik dari apa yang dilakukan pemerintah. Namun mereka berharap kalau bisa BBM tidak perlu dinaikkan karena akan membuat rakyat makin susah. Aspirasi rakyat itu sepertinya diabaikan oleh pemerintah dan tim ekonominya. Bagi mereka, yang penting APBN selamat dan kalau APBN selamat industri dan roda ekonomi akan kembali berputar dan hasilnya akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Masalahnya, rakyat yang mana? Survey dari berbagai LSM menunjukkan bahwa uang hasil “penyelamatan” APBN lebih banyak lari ke kantong-kantong pejabat. Masih untung kalau pejabat tadi menggunakan uang itu untuk merenovasi sekolah atau menyantuni kaum miskin. Bisa dijamin ia akan terpilih jadi presiden 2009.

Ada satu wacana menarik yang dilontarkan pemerintah yaitu keluar dari keanggotaan OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries). Pemerintah beranggapan OPEC telah membelenggu kebebasan produksi minyak nasional dan dunia. Beberapa kebijakan OPEC malah menimbulkan gejolak harga minyak. Oleh karena itu pemerintah merencanakan untuk keluar dari keanggotaan OPEC. Skenarionya pun sedang digodok pemerintah, apakah akan keluar total dari OPEC untuk selamanya atau hanya sementara waktu. Patut kita tunggu apa kebijakan pemerintah selanjutnya, yang jelas kita semua berharap kebijakan itu adalah kebijakan yang pro rakyat agar rakyat tak lagi menderita. BBM….bagai buah simalakama…tak dinaikkan harganya, APBN mati….dinaikkan harganya, rakyat mati…..