RUUK DIY dan arti sebuah demokrasi

28 03 2008

suhu politik indonesia sedang hangat. ada 2 hal yang harus dan akan dihadapi indonesia dalam setahun ke depan yang pertama adalah persiapan pemilu 2009 dan satu hal lagi yang sangat penting dan mendesak diselesaikan adalah RUU Keistimewaan Yogyakarta. kita singkirkan dulu soal pemilu 2009 karena bagaimanapun persiapan pemerintah sudah cukup bagus walaupun banyak rintangan.

RUUK DIY sebenarnya sudah diajukan oleh DPD sejak pertengahan tahun lalu. namun hingga kini pembahasannya selalu tertunda. inilah yang kemudian menjadi masalah. masyarakat sudah muak menunggu kepastian jadi tidaknya RUU itu disahkan. mereka pada intinya menginginkan status istimewa jogja dipertahankan termasuk digunakannya sistem penetapan kepala daerah. warga DIY menginginkan Sri Sultan HB X dan Sri Paku Alam tetap menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur jogja. mereka menolak sistem pilkada karena menurut mereka disitulah letak keistimewaan jogja dimana kepala daerah tidak melalui proses pilkada tapi melalui penetapan dan jabatan itu berlangsung secara turun temurun.

namun keinginan masyarakat jogja terganjal oleh pidato sultan dalam sebuah acara. sultan mengatakan bahwa ia tidak berminat lagi memimpin jogja bila masa tugasnya habis kelak. selain itu di kalangan dewan sendiri muncul wacana untuk mengadakan pilkada di jogja sesuai ketentuan UU. wacana ini ditentang oleh para anggota dewan yang tetap menginginkan adanya sistem penetapan kepala daerah sekaligus mempertahankan status istimewa jogja. rakyat jogja pun tak tinggal diam. mereka lalu menggalang kekuatan untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada DPRD dan kepada sultan sendiri.

rakyat jogja sendiri secara umum masih menginginkan sultan menjadi gubernur. mereka juga ingin status istimewa jogja dipertahankan. hal ini telah mereka sampaikan kepada sultan dalam beberapa kali tatap muka atau pisowanan ageng. mereka juga telah menyampaikan hal ini kepada DPRD dan mereka berjanji untuk menyampaikan hal ini ke pusat.

melihat gejala ini sultan tidak mampu berkata apa-apa. mungkin beliau kagum dengan keprcayaan rakyat yang begitu besar padanya. mungkin juga beliau tidak punya kata-kata lagi untuk menjelaskan keputusannya pada rakyat jogja. beliau hanya tersenyum saat ditanya perihal sikap rakyat jogja itu.

dari kasus jogja ini dapat kita tarik beberapa pelajaran. pertama, demokrasi. inilah contoh demokrasi yang sesungguhnya. rakyat menyatakan pendapatnya secara damai dan tanpa anarkis sperti kasus di daerah lain dan sang pemimpin dengan bijak dan lapang dada menerima aspirasi rakyatnya. kedua, nilai kebudayaan. jogja adalah ikon budaya indonesia. di kota inilah kebudayaan asli masih dijunjung tinggi. pisowanan ageng yang dilakukan masyarakat jogja sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun lalu. sampai saat inipun tradisi itu masih dijunjung tinggi. kiranya pemerintah dapat dengan arif dan bijak menangani polemik ini. tentunya penanganan masalah ini harus tetap memperhatikan adat istiadat daerah setempat..

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: